Beranda / Uncategorized / Memaknai Hari Hari Kartini, Refleksi dan Harapan untuk Kartini Masa Kini

Memaknai Hari Hari Kartini, Refleksi dan Harapan untuk Kartini Masa Kini

PENAJAM– Hari Kartini lahir dari perjuangan Raden Adjeng Kartini (1879-1904) melawan keterbatasan akses pendidikan dan peran perempuan di era kolonial. Surat-suratnya yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, menyuarakan pentingnya kesetaraan hak belajar, berpendapat, dan berkarya bagi perempuan.

Maknanya bukan sekadar berkebaya setahun sekali. Kartini relevan hari ini karena menuntut perempuan punya akses yang sama di pendidikan, pekerjaan, politik, hingga ruang digital. Isunya bergeser: dari “boleh sekolah” di zaman Kartini, jadi “bebas dari kekerasan, kesenjangan upah, dan stigma ganda” sekarang.

Semangat Kartini adalah semangat melawan kebodohan dan keterbelakangan. Nilai yang dibawa: keberanian berpikir kritis, keberpihakan pada ilmu, dan kemauan mengubah keadaan. Itu berlaku untuk laki-laki dan perempuan.

Wakil Rektor Uniba dr Indrayani dalam obrolan santainya mengatakan jika di konteks Kaltim dan IKN 2026, makna Kartini juga tentang memastikan perempuan tidak tertinggal dalam pembangunan. Akses terhadap pelatihan vokasi, kepemimpinan birokrasi, UMKM, hingga pengambilan keputusan di wilayah baru.

“Dalam momentum peringatan Hari Kartini, saya memandang bahwa perjuangan perempuan Indonesia hari ini telah memasuki fase yang lebih kompleks. Kartini bukan lagi sekadar simbol emansipasi, tetapi telah menjadi representasi keberanian berpikir, keteguhan sikap, dan kemandirian dalam menghadapi realitas zaman yang terus berubah,” ujar dr Indrayani.

dr Indrayani yang juga istri Wakil Bupati Penajam Paser Utara ini menyampaikan kita melihat perbandingan dengan kondisi “Kartini tahun lalu” yang masih berhadapan dengan keterbatasan akses pendidikan, ruang gerak sosial yang sempit, serta dominasi peran domestik maka Kartini masa kini telah menunjukkan lompatan yang signifikan.

Perempuan Indonesia hari ini hadir sebagai pendidik, pemimpin, penggerak ekonomi, dan pengambil keputusan di berbagai sektor strategis. Ini adalah capaian yang patut kita syukuri bersama.

“Namun, saya juga melihat dengan jernih bahwa kemajuan ini tidak serta-merta menghapus tantangan. Kartini masa kini dihadapkan pada realitas baru: tekanan multidimensi, tuntutan profesional yang tinggi, serta tanggung jawab sosial dan keluarga yang tetap melekat. Dalam kondisi ini, kekuatan perempuan tidak hanya diukur dari pencapaian, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keseimbangan, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Sebagai seorang akademisi dan bagian dari kepemimpinan di perguruan tinggi, ia meyakini bahwa peran perempuan ke depan tidak cukup hanya “hadir”, tetapi harus berkualitas dan berpengaruh. Kartini masa kini harus mampu menjadi role model yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

“Harapan saya, perempuan Indonesia tidak terjebak pada euforia kebebasan semata, tetapi mampu mengelola kebebasan itu dengan tanggung jawab. Kita membutuhkan Kartini yang tidak hanya kuat secara personal, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi yang mampu membuka jalan, merangkul, dan mengangkat perempuan lain untuk tumbuh bersama,” bebernya.

Perjuangan Kartini hari ini bukan lagi sekadar melawan keterbatasan, tetapi bagaimana menjaga nilai di tengah peluang yang luas. Karena sejatinya, perempuan yang hebat bukan hanya yang mampu berdiri sendiri, tetapi yang mampu memberi arti bagi sekitarnya.

“Kartini masa kini adalah mereka yang tetap teguh, tetap bijaksana, dan tetap berdaya tanpa kehilangan jati diri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *