Beranda / Advertorial / “Bukan Sekadar Gali-Angkut”, Wagub Seno Aji ke Jateng Pelajari Regulasi Mineral Non-Logam demi PAD & Lingkungan Kaltim

“Bukan Sekadar Gali-Angkut”, Wagub Seno Aji ke Jateng Pelajari Regulasi Mineral Non-Logam demi PAD & Lingkungan Kaltim

SEMARANG– Wakil Gubernur Kalimantan Timur Dr. Ir. H. Seno Aji, M.Si didampingi istri Hj. Wahyu Seno Aji memimpin langsung rombongan Pemprov Kaltim dalam kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026). Rombongan diterima Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) di Semarang untuk bertukar praktik baik tata kelola sumber daya alam.

Kunjungan ini fokus pada peningkatan kerjasama antar daerah, khususnya sektor pertambangan. Titik tekannya strategi perizinan mineral bukan logam, batuan, dan mineral bukan logam jenis tertentu. Komoditas ini jadi tulang punggung pembangunan IKN dan infrastruktur Kaltim, tapi rawan praktik ilegal dan kerusakan lingkungan jika tata kelolanya longgar.

Belajar dari “Gudang Batuan” Jawa Tengah

Wagub Seno Aji menyebut Kaltim memiliki potensi besar andesit, pasir kuarsa, tanah liat, dan batu gamping. Namun, tantangan terbesar ada di hilir perizinan yang cepat tapi akuntabel, pengawasan lapangan yang ketat, serta skema hilirisasi agar nilai tambah tidak lari keluar daerah.

“Visi kami bukan sekadar gali-angkut. Kaltim harus naik kelas. Karena itu kami datang ke Jawa Tengah yang sudah lebih dulu merapikan regulasi perizinan mineral bukan logam dan batuan. Kami ingin lihat langsung dari OSS, rekomendasi teknis, sampai pengawasan pasca izin,” jelas Seno Aji.

Jawa Tengah dikenal punya sistem perizinan terintegrasi dan database WIUP mineral non-logam yang rapi. Pengalaman itu penting bagi Kaltim yang kini dikejar kebutuhan material untuk IKN, jalan tol, dan kawasan industri, tanpa mengorbankan daya dukung lingkungan.

Tiga Fokus Kerja Sama: Izin, Pengawasan, Hilirisasi

Dalam diskusi tertutup, Pemprov Kaltim membawa tiga agenda utama:
1.Strategi perizinan: penyederhanaan proses tapi tetap ketat pada aspek lingkungan dan reklamasi.
2. Pengawasan berbasis data: integrasi data produksi, royalti/PNBP, dan pemantauan lapangan agar potensi kebocoran PAD bisa ditekan.
3. Hilirisasi: mendorong industri turunan seperti batu pecah, pasir silika untuk kaca, dan bahan baku semen agar PAD dan lapangan kerja tumbuh di daerah.

“Kami ingin tambang batuan dan mineral non-logam ini jadi berkah, bukan beban. Izin harus jelas, pengawasan harus nyata, dan hasilnya harus kembali ke masyarakat dalam bentuk jalan, sekolah, dan kesehatan,” tegas Seno Aji.

Sementara itu Hj Wahyu Seno Aji yang juga istri Wagub Kaltim Seno Aji, lebih menekankan aspek pemberdayaan masyarakat di sekitar tambang. Menurutnya, perempuan dan UMKM lokal harus dilibatkan dalam rantai pasok agar ekonomi kerakyatan ikut tumbuh.

Kaltim-Jateng Sinergi Daerah Penyangga & Daerah Industri

Kepala Dinas ESDM Kaltim yang diwakili oleh Kabid Pertambangan Achamd Pranata, menyebut kunjungan ini jadi awal nota kesepahaman teknis. Ke depan, pertukaran data, pelatihan ASN, dan joint audit akan dilakukan. Jawa Tengah bisa jadi mitra dalam pengembangan industri bahan baku bangunan, sementara Kaltim jadi pasar sekaligus pemasok untuk proyek strategis nasional.

Bagi Wagub Seno Aji, kerja sama antarprovinsi adalah keniscayaan di era saat ini. Kaltim tidak bisa berjalan sendiri, begitu juga Jateng. Dengan regulasi yang tertib dan hilirisasi yang jalan, mineral bukan logam dan batuan bisa jadi lokomotif PAD baru Kaltim tanpa mengorbankan kelestarian.

“Ini bukan kunjungan seremonial. Kami bawa PR pulang, rapikan perizinan, kuatkan pengawasan, dorong industri. Insyaallah hasilnya untuk Kaltim yang lebih maju dan berkeadilan,” pungkas Wagub.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *