SAMARINDA– Produksi pangan di Kalimantan Timur, khususnya beras, hingga saat ini masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan Kaltim masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, sehingga rentan terhadap gejolak harga dan distribusi.
Untuk mengejar kemandirian pangan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur kini mendorong percepatan perluasan lahan pertanian melalui program cetak sawah baru secara masif.
Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Dr Ir H Seno Aji, M.Si, menyebut Pemprov menargetkan pembukaan lahan sawah baru seluas 15 ribu hektare. Program ini dikerjakan bersama TNI sebagai bentuk sinergi antara pemerintah dan kekuatan pertahanan dalam mendukung ketahanan pangan.
Jika program tersebut berjalan maksimal, total lahan yang dapat dimanfaatkan untuk produksi pangan di Kaltim diproyeksikan mencapai sekitar 55 ribu hektare.
“15 ribu hektare ini sekarang sedang dilakukan untuk cetak sawah baru. Harapannya nanti bisa dimanfaatkan dengan baik dan mendukung swasembada beras di Kalimantan,” kata Seno Aji.
Menurut Seno, penambahan luas lahan saja tidak cukup. Pengelolaan harus dilakukan secara optimal agar mampu meningkatkan produktivitas, bukan sekadar menambah jumlah area pertanian.
Hal ini sejalan dengan arahan nasional. Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada untuk delapan komoditas pangan dalam satu tahun terakhir. Namun sejumlah komoditas strategis seperti bawang putih, daging sapi, dan daging kerbau masih belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Di tingkat daerah, Seno menegaskan peningkatan produksi pangan menjadi salah satu prioritas utama Kaltim. Tujuannya jelas, mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dan menjaga stabilitas harga pangan di Benua Etam.
“Insyaallah akhir tahun 2026 kita akan pacu untuk bisa,” pungkasnya.
Program cetak sawah baru ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemprov Kaltim dalam membangun ketahanan pangan mandiri. Dengan dukungan TNI, penyediaan infrastruktur, serta pengelolaan pertanian modern, diharapkan Kaltim tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga berkontribusi pada lumbung pangan nasional.
Langkah ini dinilai krusial, mengingat Kaltim ke depan akan menjadi pusat pertumbuhan baru nasional dengan kehadiran Ibu Kota Nusantara. Kebutuhan pangan dipastikan akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.









