Perkuat Madrasah Unggul, Kanwil Kemenag Kaltim Gelar Pelatihan Kepala Madrasah, Abdul Khaliq Tekankan Kurikulum Berbasis Cinta untuk Cegah Bullying
SAMARINDA– Upaya mencetak madrasah unggul dan berdaya saing di Kalimantan Timur terus diperkuat. Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Kalimantan Timur bersama Balai Diklat Keagamaan (BDK) Banjarmasin dan Kelompok Kerja Madrasah (KKM) Kaltim menyelenggarakan Pelatihan Kepala Madrasah pada 12–17 Oktober 2026 di Hotel Grand Sawit, Kota Samarinda.
Pelatihan intensif selama enam hari tersebut diikuti oleh 42 kepala madrasah dari berbagai tingkatan di lingkungan Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Timur. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara BDK Banjarmasin, KKM Provinsi Kaltim, dan Kanwil Kemenag Kaltim untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan di lembaga pendidikan Islam.
Kegiatan secara resmi dibuka langsung oleh Kepala Kanwil Kemenag Kaltim, H. Abdul Khaliq, M.Pd. Senin(12/10/2026)
Dalam sambutannya, Abdul Khaliq menegaskan bahwa tujuan utama pelatihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan penguatan kompetensi secara menyeluruh. Para kepala madrasah dituntut menguasai kompetensi manajerial, supervisi akademik, kepemimpinan, kewirausahaan, sosial, dan kepribadian.
“Madrasah hari ini tidak bisa lagi dikelola dengan cara biasa. Kepala madrasah harus menjadi manajer, leader, supervisor, dan entrepreneur sekaligus untuk mewujudkan madrasah yang unggul, hebat, dan berdaya saing global,” ujar Abdul Khaliq.
Di tengah materi manajerial, Kakanwil Kemenag Kaltim juga menyampaikan pesan mendalam dan sangat relevan dengan kondisi pendidikan nasional saat ini: maraknya kasus perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Abdul Khaliq mengingatkan dengan tegas agar seluruh kepala madrasah menjadikan madrasah sebagai rumah aman dan nyaman bagi peserta didik. Ia tidak ingin kasus bullying yang viral di sekolah umum terjadi di lingkungan madrasah di Kaltim.
“Jangan sampai di Madrasah ini ada kasus serupa. Madrasah harus menjadi pelopor pendidikan yang ramah anak,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia menegaskan bahwa Kementerian Agama kini telah memiliki senjata utama, yakni Kurikulum Berbasis Cinta.
“Di Kementerian Agama ada kurikulum Berbasis Cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada bangsa. Jika kurikulum ini diimplementasikan dengan benar oleh kepala madrasah dan guru, maka tidak akan ada ruang untuk kekerasan, intoleransi, dan perundungan di madrasah,” pungkasnya.
Pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan kepala madrasah yang tidak hanya kompeten secara administrasi, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan keteladanan dalam membangun ekosistem pendidikan Islam yang moderat, humanis, dan berkualitas di Benua Etam.









